Abundance: Tentang Uang, Harapan, dan Belajar Melepas

Abundance bukan tentang memiliki sebanyak-banyaknya, tetapi tentang merasa cukup dengan apa yang ada hari ini, sambil tetap terbuka terhadap apa yang masih mungkin bertumbuh di kemudian hari.

Inca Hilman

8/10/20267 min read

Blog kali ini saya mau ngebahas soal abundance atau keberlimpahan, spesifiknya tentang uang, berdasarkan pengalaman hidup saya sendiri. Seperti yang pernah saya ceritakan di blog About Me, salah satu pengalaman yang cukup membekas dalam hidup saya adalah ketika keluarga saya sempat mengalami kesulitan finansial saat saya remaja.

Entah dorongan dari mana, kondisi itu justru membuat saya punya tekad yang cukup kuat: saya ingin mengubah nasib saya. Dan somehow, dari dalam hati saya memang yakin kalau itu bisa. Masalahnya cuma satu: caranya gimana?

Karena waktu itu saya masih sekolah dan belum punya apa-apa, akhirnya saya berpikir untuk mulai saja dari apa yang saya punya. Modal saya saat itu ya cuma kesempatan untuk belajar. Jadi, logika sederhananya: belajar yang benar, dapat nilai bagus, nanti bisa dapat kerja bagus, lalu punya penghasilan. Sounds like a solid plan. Kemudian pada tahun 2004 saya lulus kuliah. Dengan nilai… yaaa, pas-pasan.

Apakah berarti hidup saya juga otomatis harus pas-pasan? Again, somehow hati saya bilang: nggak. Ya sudah. Gas maju terus. Waktu itu strategi saya berubah. Kalau nilai kuliah ternyata tidak spektakuler, berarti saya harus memanfaatkan kesempatan lain yang saya punya. Saya cari kerja, dan ketika sudah bekerja, saya berusaha menggunakan pekerjaan sebagai tempat untuk terus belajar, mengasah kemampuan, dan menambah value diri.

Pada masa-masa itu kebetulan sedang booming sekali buku-buku tentang afirmasi dan law of attraction. Tidak usah saya sebut bukunya apa, mungkin banyak yang sudah bisa menebak. Dan jujur saja, saya kepincut berat. Saya praktikkan benar-benar.

Saya bikin mimpi yang tinggi sekali. Selangit sekalian. Tapi karena menunggu mimpi selangit kadang bikin leher pegal lihat ke atas terus, saya juga membuat afirmasi-afirmasi jangka pendek yang lebih feasible. Jadi saya punya dua jenis afirmasi: jangka pendek dan jangka panjang. Dan memang, banyak yang kemudian terjadi. Afirmasi dan konsep law of attraction ini buat saya worked quite well. Tapi setelah beberapa lama, ada satu masalah. Saya capek. Capek secara pikiran, capek secara rasa.

Setiap hari rasanya harus terus mengulang keinginan, membayangkan sesuatu, menjaga pikiran supaya tetap positif, menjaga vibrasi, dan seterusnya. Lama-lama bukannya terasa ringan, malah seperti sedang ngotot sama semesta. Di situ saya mulai merasa:

Kayaknya ada missing link deh.

Secara finansial sebenarnya keadaan saya sudah jauh membaik. Saya memang belum hidup berlebihan, tetapi setidaknya sudah bisa menghidupi diri sendiri tanpa harus membebani orang tua. Namun tetap saja, di dalam diri saya belum muncul rasa benar-benar cukup. Saya masih belum merasa genuinely happy. Sampai akhirnya, pada tahun 2008 saya mulai masuk dan belajar lebih dalam mengenai kehidupan holistik.

Dari sana saya mulai belajar banyak hal yang sebelumnya hampir tidak pernah saya sentuh: mengenali rasa, memahami diri sendiri lebih dalam, mengolah emosi, belajar bersyukur bukan sekadar lewat pikiran, dan yang paling penting bagi saya, belajar membangun hubungan yang lebih dekat dengan Sang Pencipta Yang Maha Esa.

Di situlah perlahan saya menemukan missing link dari afirmasi yang sebelumnya saya lakukan. Yang kurang ternyata bukan teknik afirmasinya.

Saya tetap percaya bahwa afirmasi, harapan, dan mimpi punya energi dan bisa menjadi arah dalam kehidupan. Tetapi dulu saya menjalankannya seolah-olah semuanya bergantung pada kemampuan saya sendiri. Saya yang harus terus menjaga pikiran. Saya yang harus terus membayangkan. Saya yang harus terus percaya. Saya yang harus terus berusaha menarik apa yang saya inginkan. Tidak heran lama-lama rasanya capek juga. Seperti saya sendirian yang sedang sibuk mengatur semesta.

Dan buat saya, cara hidup seperti ini justru bekerja dengan sangat indah. Hari ini saya dititipkan untuk menjalani sebuah usaha bernama Kundalinka Wellness Cafe, sesuatu yang bahkan sebelumnya tidak pernah masuk dalam daftar afirmasi saya. Ide Kundalinka baru muncul sekitar tahun 2023. Menariknya, ketika ide tersebut datang, banyak sumber daya yang ternyata sudah terbentuk. Bukan hanya uang.

Ada pengalaman bekerja dan berbisnis, kemampuan teknis yang saya kumpulkan dari perjalanan sebelumnya, pemahaman mengenai kehidupan holistik yang sudah saya pelajari bertahun-tahun, pengalaman pribadi, jaringan, keberanian mengambil keputusan, dan banyak hal lain yang ternyata baru terlihat nyambung ketika semuanya bertemu. Kalau ide Kundalinka datang dua puluh tahun sebelumnya, kemungkinan besar saya juga bengong: “Terus… bikinnya gimana?”

Jadi, buat saya pribadi, abundance bukan hanya soal mendapatkan uang lebih banyak. Kadang abundance hadir dalam bentuk kesiapan. Ide yang datang pada waktu yang tepat. Orang yang dipertemukan. Pengetahuan yang dulu terasa tidak berhubungan tetapi tiba-tiba berguna. Keberanian mengambil keputusan. Kesempatan. Bahkan kegagalan memaksa kita belajar sesuatu. Tentunya, sampai berada di titik kehidupan saya sekarang bukan proses instan.

Ada banyak inner work yang perlu dibenahi. Ada keputusan-keputusan yang kadang terlihat bertentangan dengan persepsi umum. Ada hal-hal yang perlu saya lepaskan meskipun secara logika terlihat menguntungkan. Tetapi anehnya, ketika keputusan tersebut terasa benar dari dalam, sering kali saya merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan selain: it feels aligned with the Divine. Prosesnya membutuhkan keberanian, kesabaran tanpa terlalu banyak tuntutan, keikhlasan menjalani apa yang tersedia hari ini, rasa syukur, good intention, dan masih banyak lagi.

Pada akhirnya, dari perjalanan ini saya belajar bahwa abundance buat saya bukan tentang memiliki sebanyak-banyaknya, tetapi tentang merasa cukup dengan apa yang ada hariini, sambil tetap terbuka terhadap apa yang masih mungkin bertumbuh di kemudian hari.

Kita tetap boleh punya mimpi besar, harapan, target, bahkan keinginan untuk memiliki kondisi finansial yang lebih baik. Kita tetap perlu berusaha, belajar, dan melakukan bagian yang memang bisa kita lakukan. Hanya saja, kita tidak harus memikul semuanya sendirian. Ada bagian yang bisa kita kerjakan, dan ada bagian yang perlu kita percayakan kepada-Nya.

Jadi sekarang saya lebih memilih untuk terus berkarya dengan apa yang sudah saya punya, menyertakan-Nya dalam setiap harapan dan langkah, lalu belajar menikmati perjalanan tanpa terlalu sibuk mendikte kapan dan bagaimana hasilnya harus datang. Karena mungkin keberlimpahan tidak selalu dimulai ketika semua yang kita inginkan akhirnya terpenuhi. Kadang, keberlimpahan justru dimulai ketika kita bisa melihat dengan jernih dan berkata dari hati: “Ternyata, hari ini pun saya sudah punya banyak hal untuk disyukuri.”

Dari perjalanan holistik, saya justru belajar bahwa jalannya bisa terasa jauh lebih ringan ketika saya tidak hanya mengandalkan diri sendiri, tetapi selalu menyertakan Sang Pencipta di dalam harapan, pikiran, dan tindakan saya. Bukan berarti kita berhenti punya keinginan atau menjadi pasif. Kita tetap berpikir, merencanakan, bekerja, mengambil keputusan, dan melakukan apa yang memang bisa kita lakukan. Tetapi sambil terus belajar mendengarkan hati. Apakah yang saya inginkan ini terasa selaras? Apakah langkah yang sedang saya ambil terasa benar? Apakah ada sesuatu yang sedang diarahkan melalui hati saya?

Di sini saya juga mulai memahami pentingnya rasa bahagia dan rasa syukur yang benar-benar datang dari hati. Bukan sekadar bilang, “Saya bersyukur,” supaya keinginan saya cepat terkabul. Karena kalau begitu, ujung-ujungnya rasa syukur pun dijadikan strategi transaksi dengan semesta. Saya mulai sadar bahwa selama ini sebagian keinginan saya dibuat sepenuhnya berdasarkan apa yang saya pikir baik untuk hidup saya. Saya ingin ini. Saya mau itu. Targetnya sekian. Deadline-nya kapan. Caranya begini. Pokoknya sudah seperti project manager kehidupan sendiri. Padahal kehidupan ini bukan sepenuhnya milik saya.

Saya mulai memahami bahwa afirmasi, mimpi, dan harapan itu sah-sah saja. Manusia memang punya keinginan. Kita punya aspirasi. Kita ingin bertumbuh, mengalami sesuatu, menciptakan sesuatu, bahkan punya kondisi finansial tertentu. Tidak ada yang salah dengan itu. Tetapi menurut pemahaman saya sekarang, semuanya tetap perlu diselaraskan dan dikembalikan kepada Sang Pemilik Kehidupan.

Afirmasi yang kita buat belum tentu merupakan sesuatu yang terbaik untuk kita. Atau mungkin memang baik, tetapi waktunya belum sekarang. Atau bentuk akhirnya ternyata berbeda jauh dari apa yang kita bayangkan. Nah, bagian ini dulu sempat membingungkan buat saya. Kalau kita diminta punya mimpi, afirmasi, atau niat yang jelas, kenapa setelah itu malah disuruh melepas?

Buat saya, sekarang analoginya kurang lebih seperti bekerja di sebuah perusahaan. Bayangkan kita punya ide untuk membuat sebuah proyek besar. Kita percaya proyek ini bisa membawa perkembangan, baik untuk diri kita maupun perusahaan. Kita punya gagasan, tujuan, bahkan mungkin sudah tahu kira-kira budget yang dibutuhkan. Lalu kita bikin proposal ke atasan. Kita presentasikan sebaik mungkin. Proposal itu kurang lebih seperti afirmasi.

Kita dapat dengan sangat jelas menentukan apa yang kita inginkan, tujuan kita apa, bahkan sumber daya seperti apa yang kita butuhkan. Tapi setelah presentasi selesai, masa kita setiap lima menit nongkrong di depan meja bos sambil bertanya: “Pak… approve belum?” “Pak?” “Pak…?” Besok pagi datang lagi. “Pak, proposal saya gimana?” Ya, bosnya juga mungkin lama-lama pura-pura meeting.

Yang bisa kita kontrol adalah kualitas proposal kita dan apa yang kita lakukan setelahnya. Soal approval, timing, bahkan mungkin bentuk proyek akhirnya, bukan sepenuhnya berada di tangan kita.

Buat saya, di sinilah makna melepas mulai terasa lebih masuk akal. Melepas bukan berarti berhenti berharap. Bukan berarti tidak boleh punya mimpi. Bukan juga berarti pasrah lalu tidur. Justru setelah menyampaikan niat dan harapan kita, kita tetap melakukan bagian kita. Tetap bekerja. Tetap belajar. Tetap berkarya. Tetap menggunakan kemampuan dan sumber daya yang kita punya hari ini. Tetapi kita tidak lagi menggenggam keinginan tersebut terlalu keras seolah semuanya harus terjadi persis seperti yang kita mau.

Kita menyertakan-Nya. Kita berusaha sambil mendengarkan hati. Kita melakukan bagian yang memang berada dalam kendali kita, lalu menyerahkan kembali hasil akhirnya kepada-Nya. Dan ketika saya mulai memahami bagian ini, afirmasi terasa jauh lebih ringan. Saya tidak lagi merasa harus terus-menerus memegang mimpi itu supaya jangan sampai“lepas dari vibrasi”. Saya cukup menyampaikan niat, melakukan apa yang bisa saya lakukan, lalu membiarkan diri dituntun dalam prosesnya. Karena ternyata ada bedanya antara berusaha keras sendirian untuk membuat kehidupan berjalan sesuai kemauan kita, dengan berusaha sungguh-sungguh sambil membiarkan diri dituntun-Nya dalam menjalani kehidupan. Yang kedua, buat saya, jauh lebih ringan.

Lalu apa yang saya lakukan ketika sesuatu yang saya inginkan belum diberikan? Be present. Dan Be grateful for what I have at this present moment. Dari perjalanan holistik saya belajar bahwa rasa syukur bukan sekadar bilang, “Saya bersyukur.” Rasa syukur juga perlu dilatih sampai benar-benar terasa. Belajar melihat apa yang sudah ada. Belajar mengambil makna dari kejadian yang sedang kita alami. Belajar menikmati apa yang kita punya hari ini, bahkan ketika kondisi tersebut belum sesuaidengan bayangan ideal kita. Karena kalau kita hanya mengizinkan diri bahagia setelah semua keinginan terpenuhi, bisa-bisa sepanjang hidup kerjaannya cuma nunggu.

Buat saya pribadi, Sang Maha Pencipta selalu mempunyai cara untuk menjawab mimpi dan harapan saya. Tetapi bentuk jawabannya tidak selalu sama seperti apa yang saya minta. Waktunya juga tidak selalu mengikuti kalender saya. Dan semakin ke sini saya justru merasa itu hal yang baik. Karena Sang Pemilik kehidupan ini jauh lebih mengetahui kapan waktu yang tepat, pengalaman apa yang perlu saya lalui terlebih dahulu, kemampuan apa yang perlu sayabangun, bahkan versi diri seperti apa yang perlu saya tumbuhkan sebelum menerima sesuatu.

Jadi sekarang prinsip saya jauh lebih sederhana:

Bersyukur atas apa yang saya miliki hari ini.
Terus berkarya dan berusaha menggunakan apa yang sudah ada.
Menyertakan-Nya dalam harapan, pikiran, dan tindakan.
Lalu serahkan kembali bagaimana dan kapan hasilnya akan datang.

Get in touch

Ruko Icon Business Park, Blok P No.5, Sampora, Kec. Cisauk, Kabupaten Tangerang, Banten 15345

Open : Tuesday - Sunday (11.00 - 20.00)