
Mindful Eating
Mindful eating bukan sekadar makan dengan aturan tertentu, tetapi tentang hadir saat makan, mendengarkan respons tubuh, menikmati makanan tanpa rasa takut, dan menerima perubahan selera. Makanan bukan hanya soal nutrisi, tetapi juga tentang kenikmatan, kebersamaan, cerita, dan rasa syukur. Prinsip ini menjadi dasar Kundalinka Wellness Cafe dalam menyajikan comfort food yang mengajak customer untuk makan dengan sadar, menikmati setiap suapan, dan menghargai momen.
Inca Hilman
8/26/20266 min read


Ketika Tubuh Ikut Memilih
Sejak belajar menjalani hidup dengan kesadaran yang lebih holistik, salah satu perubahan yang paling terasa bagi saya justru terjadi pada sesuatu yang sangat sehari-hari: cara saya menikmati makanan. Mindful eating sering dipahami sebagai makan perlahan, tidak sambil bermain handphone, atau mengunyah sekian kali sebelum menelan. Semua itu memang bisa menjadi bagian dari praktik. Namun, bagi saya, mindful eating lebih sederhana sekaligus lebih luas: belajar untuk hadir saat makan dan mendengarkan bagaimana tubuh merespons makanan tersebut.
Tubuh sebenarnya selalu berkomunikasi. Ia memberi tahu saat lapar, haus, kenyang, lelah, nyaman, atau ketika suatu makanan terasa terlalu berat. Kesadaran holistik tidak menciptakan sinyal-sinyal tersebut. Kesadaran hanya membantu kita menjadi lebih peka untuk mengenali, memahami, lalu meresponsnya.
Ketika semakin terbiasa mendengarkan tubuh, kita juga mulai bisa membedakan antara lapar fisik dan keinginan makan yang muncul karena stres, bosan, lelah, sedih, atau sekadar melihat makanan orang lain lewat di depan meja. Kadang yang lapar memang perut. Kadang mata. Kadang hati sedang mencari hiburan karena ada platform aplikasi jual makanan di HP kita dan saldo masih banyak?
Namun, mindful eating bukan berarti kita harus selalu membuat pilihan yang dianggap paling sehat. Bukan pula hidup dengan daftar panjang makanan yang boleh dan tidak boleh dimakan. Bagi saya, ini lebih tentang membangun hubungan yang jujur dan seimbang dengan makanan. Ada makanan yang memberikan nutrisi bagi tubuh. Ada pula makanan yang memberi rasa nyaman, kenangan, kebersamaan, atau sekadar kenikmatan. Semuanya tetap menjadi bagian dari pengalaman hidup.
From Enemies to Lovers and Vice Versa
Salah satu perubahan unik yang saya alami adalah penyesuaian pada indra pengecap dan penciuman. Perubahan ini terjadi secara alami, tanpa saya rencanakan atau paksakan.
Beberapa makanan yang dahulu tidak saya sukai, perlahan justru mulai terasa menarik. Salah satunya adalah pete. Dulu, pete bisa dibilang musuh saya. Mungkin ada pengaruh dari komentar orang-orang di sekitar yang menganggap aromanya mengganggu dan rasanya agak pahit. Akibatnya, sebelum benar-benar mengenalnya, saya sudah lebih dahulu menjaga jarak. Hubungan kami belum dimulai, tetapi saya sudah curiga.
Entah sejak kapan, persepsi saya terhadap pete mulai berubah. Saya mulai bisa menikmati keunikannya: warna, aroma, rasa, tekstur, serta bagaimana karakternya berubah ketika dipadukan dengan komponen makanan lain. Ternyata pete bukan sekadar makanan dengan aroma yang sulit dilupakan. Ia juga mempunyai kenikmatan tersendiri. Saya saja yang dulu belum siap menerima seluruh kepribadiannya.
Namun, ada juga makanan yang tadinya merupakan bestie saya, tetapi sekarang justru tidak bisa dimakan lagi: pepaya. Dulu, saya sungguh doyan makan pepaya. Mungkin bisa dibilang addicted. Hingga tiba masanya tubuh saya tidak lagi menoleransi pepaya. Setiap makan sedikit saja, perut saya langsung keram dan berkontraksi seperti mau melahirkan. Hahahaha..
Ya, kalau dikembalikan ke filosofi kehidupan, mungkin kita memang tidak boleh membenci atau mencintai sesuatu secara berlebihan. Sebab, nanti akan ada situasi ketika kita harus belajar melihatnya secara netral. Dari situ saya menyadari bahwa selera makan tidak selalu bersifat tetap. Seiring perubahan tubuh, pengalaman, dan kesadaran kita, apa yang dahulu tidak disukai bisa saja menjadi sesuatu yang dinikmati. Sebaliknya, makanan yang dulu sangat sering dicari bisa perlahan tidak lagi terlalu dibutuhkan—bahkan bisa berubah dari bestie menjadi sesuatu yang harus dihindari.
Tubuh Juga Punya Selera
Saya tidak memiliki terlalu banyak pantangan makanan. Ada saatnya tubuh terasa ingin makan gado-gado yang sebagian besar isinya sayuran. Namun, pada waktu lain, yang terasa menarik justru sate kambing, gorengan, atau mi instan—makanan yang cukup sering mendapat peran sebagai penjahat dalam cerita tentang kesehatan. Bagi saya, semua tetap bisa dinikmati. Hanya saja, tidak berarti semuanya harus dimakan terus-menerus. Saya berusaha merasakan kapan tubuh menginginkannya, seberapa banyak yang terasa cukup, dan bagaimana kondisi tubuh setelahnya.

Sewaktu kecil, saya sangat menyukai mi instan kuah. Saat itu konsumsinya dibatasi paling banyak dua kali dalam seminggu. Sekarang, ketika sudah tidak ada lagi yang memonitor pergerakan saya dalam makan mi instan, saya justru paling cepat menginginkannya sekitar satu bulan sekali. Setelah makan satu porsi, biasanya keinginan tersebut selesai dengan sendirinya. Saya tidak perlu menahan diri atau membuat resolusi khusus untuk menjauhi mi instan. Tubuh seolah sudah mengatakan, “Terima kasih, cukup sampai bertemu bulan depan.” Begitu pula dengan nasi. Sebenarnya saya menyukai nasi, tetapi entah mengapa perut saya sering terasa kembung setelah memakannya. Karena itu, saya lebih banyak memilih sumber karbohidrat lain seperti kentang, pasta, atau mi. Saya masih makan nasi, mungkin sekitar dua minggu sekali, hanya saja tidak menjadikannya sebagai makanan sehari-hari.
Pilihan tersebut bukan karena saya menganggap nasi buruk atau bikin gemuk. Saya hanya mengamati respons tubuh dan memilih yang saat ini terasa lebih nyaman. Saya juga menemukan bahwa intermittent fasting menjadi salah satu pola yang secara alami sesuai dengan kebutuhan tubuh saya. Tubuh terasa lebih ringan ketika sistem pencernaan mempunyai waktu untuk beristirahat selama beberapa jam. Namun, saya bukan tipe yang saklek harus melakukan intermittent fasting dengan durasi tertentu. Saya mencari sendiri rentang yang terasa sesuai, biasanya sekitar 12–16 jam. Untuk saat ini, saya lebih nyaman tidak makan pada pagi hari, mulai makan saat siang, dan tetap makan malam.
Dengan melakukan intermittent fasting nyaman versi saya sendiri, saya tidak melihat intermittent fasting sebagai suatu kewajiban. Secara natural, tubuh menjalaninya dengan enteng. Dan itu membuat saya tidak memiliki kebutuhan untuk mempunyai jadwal Cheat Day, yaitu hari ketika bebas makan apa saja. Itulah ritme yang sekarang terasa cocok bagi saya. Bukan berarti pola tersebut akan selalu sama, apalagi harus diikuti orang lain. Kebutuhan tubuh dapat berubah, dan kondisi setiap orang pun berbeda.
Rebutan Makanan sebagai Bahasa Cinta
Saya dan suami sama-sama suka makan. Kami berusaha menyempatkan diri makan di luar setidaknya seminggu sekali. Kadang sambil mengamati suasana sekitar, bertukar ide, membicarakan pekerjaan, atau sekadar memberikan daily update tentang kehidupan masing-masing. Kami bisa makan di mana saja, dari warteg sampai restoran premium. Bagi kami, bukan jenis makanan, harga, atau tempatnya yang otomatis membuat pengalaman makan menjadi berharga. Yang membuatnya istimewa adalah kesempatan untuk duduk bersama, menikmati hidangan, dan benar-benar merasakan momen tersebut. Namun, jangan salah. Kalau urusan makanan, kami juga cukup ketat—terutama jika memesan hidangan untuk dimakan bersama. Tidak boleh asal mengambil. Apalagi kalau yang tersisa adalah makanan favorit kami berdua. Pembagiannya harus jelas. Bila perlu, dihitung secara akurat.
Dahulu kami cukup sering ribut kecil gara-gara makanan. Suami saya mengira saya sudah tidak mau, lalu langsung mengambil bagian saya tanpa bertanya. Padahal saya masih mau. Rasanya saya pengen smack down dia. Hahaha… Persoalannya sederhana, tetapi pada saat itu rasanya sangat penting. Makanan favorit telah berpindah piring tanpa persetujuan pemilik. Untungnya, itu termasuk jenis keributan yang sekarang menjadi kenangan lucu. Kami sering tertawa ketika mengingat bahwa salah satu pemicu pertengkaran dalam pernikahan kami bukan masalah besar atau dramatis, melainkan rebutan makanan. Mungkin itu juga bagian dari mindful eating: bukan hanya menyadari rasa makanan, tetapi juga menyadari bahwa makanan dapat membawa cerita, kedekatan, dan kenangan. Walaupun dalam kasus kami, kadang kedekatan itu perlu disertai aturan pembagian porsi yang tegas. Hehehe…


Ketika Makan, Saya Hanya Ingin Makan
Walaupun senang makan bersama suami, sejujurnya saya juga menikmati makan sendirian. Ketika sendiri, saya bisa memusatkan perhatian sepenuhnya pada makanan. Saya tidak perlu mengobrol. Handphone biasanya saya letakkan dalam posisi telungkup atau dijauhkan sementara. Bukan karena sedang menjalankan ritual yang serius, melainkan karena saya ingin memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk benar-benar mengalami makanan tersebut. Saat perhatian tidak banyak terpecah, indra-indra kita mulai bekerja dengan lebih jelas. Saya bisa merasakan rasa dan tekstur di lidah, mencium aromanya, memperhatikan warna serta bentuknya, dan mendengar bunyi ketika makanan digigit, dikunyah, lalu ditelan. Ketika makan menggunakan tangan, ada pula sensasi sentuhan yang membuat pengalaman makan terasa berbeda.
Lalu ada sixth sense. Bukan berarti saya melihat penampakan di balik piring. Sixth sense yang saya maksud lebih sederhana: rasa nikmat, syukur, dan kelimpahan yang muncul dari dalam hati. Ketika benar-benar hadir, sepiring makanan tidak lagi terasa seperti sesuatu yang sekadar lewat untuk mengisi perut. Saya menyadari warna, aroma, tekstur, dan rasa yang bertemu dalam satu hidangan. Saya juga teringat bahwa makanan tersebut telah melalui perjalanan panjang sebelum sampai di hadapan saya. Ada alam yang menumbuhkannya, orang-orang yang menanam atau memeliharanya, tangan yang mengolahnya, dan berbagai proses yang memungkinkan saya menikmatinya pada saat itu. Bahkan makanan sederhana pun membawa begitu banyak kehidupan di dalamnya. Di situlah rasa syukur sering muncul dengan sendirinya. Tidak perlu dipaksakan, tidak perlu dibuat menjadi upacara panjang. Cukup dengan hadir dan menyadari bahwa saya masih mempunyai kesempatan untuk makan, merasakan, dan menikmati.
Pengetahuan Penting, Tubuh Juga Perlu Didengarkan
Bagi saya, mempunyai pengetahuan mengenai tubuh dan nutrisi tetap penting. Pengetahuan membantu kita memahami kebutuhan dasar manusia, fungsi makanan, serta berbagai hal yang dapat mendukung kesehatan. Namun, pengetahuan umum tetap perlu dipertemukan dengan pengamatan terhadap tubuh sendiri. Setiap manusia memiliki kondisi yang unik. Tubuh dibentuk oleh faktor biologis, genetik, usia, aktivitas, lingkungan, kebiasaan, kondisi kesehatan, serta perjalanan hidup yang berbeda-beda. Pikiran dan emosi pun dapat memengaruhi cara kita makan dan merespons makanan. Karena itu, sesuatu yang terasa cocok bagi satu orang belum tentu memberikan pengalaman yang sama bagi orang lain. Bahkan kebutuhan tubuh kita sendiri hari ini bisa berbeda dari kebutuhannya beberapa tahun lalu.
Mindful eating bukan berarti selalu menuruti keinginan tubuh tanpa pertimbangan. Pengetahuan tetap penting, tetapi perlu diimbangi dengan kesadaran untuk mengamati respons tubuh: bukan hanya bertanya apakah makanan itu sehat, melainkan juga bagaimana pengaruhnya bagi kita. Pada akhirnya, mindful eating bukan tentang makan dengan sempurna, melainkan hadir saat makan, mengenali rasa lapar dan kenyang, menikmati makanan tanpa rasa takut, serta menerima perubahan selera tubuh. Dari sana, kita belajar bersyukur—bukan hanya karena makanan terasa enak, tetapi karena masih bisa mencicipi, mencium, mengunyah, menikmati, dan berbagi. Apa pun hidangannya, ketika kita benar-benar hadir, makan menjadi pengalaman kecil untuk menikmati kehidupan.
Untuk itulah, meski namanya Kundalinka Wellness Cafe, menu-menu yang kami sajikan lebih mengarah pada comfort food. Kami ingin mengajak para customer untuk mempraktikkan mindful eating: hadir sepenuhnya, menikmati setiap suapan, dan merasakan momen bersantai tanpa terburu-buru.
Get in touch
Ruko Icon Business Park, Blok P No.5, Sampora, Kec. Cisauk, Kabupaten Tangerang, Banten 15345
Open : Tuesday - Sunday (11.00 - 20.00)
