
Mindful Motor Touring
Motor touring adalah analogi hidup mindful, di mana kebahagiaan tak perlu menunggu hingga tiba di tujuan, melainkan dinikmati di setiap detiknya. Melalui tantangan jalanan, rute yang berubah, dan rasa lelah, touring mengajarkan fleksibilitas, pentingnya beristirahat, serta seni mengalihkan fokus pada hal-hal kecil yang layak disyukuri, mulai dari udara segar, kehangatan warga desa, hingga kebersamaan bareng teman.
Inca Hilman
8/7/20263 min read


Di situ saya belajar bahwa punya rencana itu penting, tetapi kemampuan untuk tetap santaiketika rencana berubah juga tidak kalah penting. Tujuannya mungkin masih sama, tetapi jalanuntuk mencapainya bisa saja berbeda.
Sepanjang perjalanan, tentu ada banyak tantangan. Salah satu tantangan terbesar saya adalah terik matahari sekitar pukul sebelas siang. Entahkenapa, di jam-jam tersebut saya cukup sering merasa sangat mengantuk, bahkan nyarismengalami microsleep, meskipun malam sebelumnya sudah tidur cukup.
Dalam kondisi seperti ini, saya tidak boleh gegabah atau memaksakan diri. Saya perlu jujurmengakui bahwa tubuh saya sedang tidak sanggup melanjutkan perjalanan. Jadi, kami harusberhenti sejenak untuk beristirahat. Buat saya, ini juga bagian dari mindfulness. Bukan tentang seberapa kuat kita bisa terusberjalan, tetapi seberapa sadar kita membaca kondisi diri sendiri. Ada waktunya melanjutkanperjalanan, ada waktunya berhenti.
Tantangan lainnya juga cukup lengkap. Jalan yang rusak, terkadang hujan lebat, badan yang mulai pegal, tulang ekor yang terasa nyeri, sampai pantat yang rasanya panas karena duduk berjam-jam di atas motor.
Kalau dipikir-pikir secara logis, sebenarnya untuk apa menyusahkan diri sendiri seperti ini? Bukankah lebih nyaman nongkrong santai di rumah, duduk di sofa, sambil minum kopi? Tapi jujur, saya suka sekali motor touring. Ada banyak hal yang bisa saya pelajari dari pengalaman ini. Touring mengasah fisik dan mental, sekaligus melatih saya untuk lebih sadar terhadap apa yang sedang terjadi saat ini.
Kalau tidak terbiasa melatih mindful dan present living, mungkin perjalanan panjang akanterasa sangat membosankan. Pikiran hanya akan dipenuhi pertanyaan: Kapan, sih, sampainya? Masih berapa jam lagi? Kenapa jalannya belum selesai juga?”
Ketika perhatian kita hanya tertuju pada tujuan akhir, perjalanan terasa seperti bagian yang harus dilewati secepat mungkin. Kita baru mengizinkan diri merasa senang setelah sampai. Padahal hidup mindful justru mengajarkan kita untuk menikmati journey-nya. Menikmatiproses perjalanannya, bukan baru merasakan kebahagiaan ketika sudah tiba di tujuan.
Lalu, apa saja yang bisa dinikmati selama perjalanan? Banyaaaakkkk. Tidak semuanya harus berupa pemandangan spektakuler. Hal-hal biasa pun bisa terasamenarik ketika kita benar-benar memperhatikannya. Ada udara sejuk di pagi hari yang terasa jauh lebih nyata ketika naik motor dibandingkan saatberada di dalam mobil. Ada perkampungan-perkampungan yang kami lewati. Saya sukasekali memperhatikan bentuk rumah-rumahnya, halaman mereka, warna dindingnya, ataucara rumah-rumah tersebut dibangun menyesuaikan kondisi daerahnya.
Mindful Motor Touring
Kalau teman-teman pernah bertanya-tanya, sebenarnya hidup mindful dan berada di present moment itu seperti apa, buat saya motor touring adalah salah satu kegiatan yang paling pas untuk dijadikan analogi.
Dalam touring, tentu kita punya tujuan. Kita tahu mau pergi ke mana, sama seperti kita punya cita-cita atau arah yang ingin dicapai dalam hidup. Sebelum berangkat, kita juga membuatstrategi dan perencanaan: rute mana yang akan dilewati, jam berapa harus berangkat, berapalama perjalanan, sampai di mana kita akan berhenti untuk beristirahat.
Tapi seperti kehidupan, perjalanan di jalan raya tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Kadang rute yang sudah dipilih ternyata tidak feasible. Bisa karena jalannya ditutup, kondisinya terlalu buruk, terlalu macet, atau ada situasi lain yang tidak diperkirakansebelumnya. Mau tidak mau, kami harus mencari rute alternatif.

Menjelang sore, saya juga suka melihat orang-orang duduk santai di depan teras rumah. Mereka mengobrol, memperhatikan jalan, atau sekadar duduk menunggu malam datang. Pemandangan sederhana seperti ini rasanya sudah semakin jarang terlihat di kota. Belum lagi pemandangan di sepanjang perjalanan: pohon, gunung, pantai, bebatuan, semak-semak, sawah, sampai tingkah laku orang-orang yang kadang unik dan mengundang komentar.
Perjalanan juga semakin menyenangkan karena ada teman-teman. Sepanjang jalan, ada saja yang dikomentari, dibahas, atau tiba-tiba dinyanyikan. Kadang obrolannya penting, lebih sering tidak penting, tetapi justru itu yang membuat perjalanan terasa hidup. Meskipun saya berada di posisi dibonceng, buat saya motor touring tetap membutuhkan endurance, baik secara fisik maupun mental. Ada waktunya badan sudah pegal, pantat mulai nyeri karena terlalu lama duduk, atau mata terasa berat karena kantuk. Dalam situasi seperti ini, mental ikut bermain.
Saya perlu mengembalikan perhatian ke present moment. Kembali ke napas. Tidak terus-menerus fokus pada rasa sakit atau rasa tidak nyaman, tetapi melihat lagi apa yang sedang terjadi di sekitar. Apa yang bisa saya lihat? Apa yang bisa saya dengar? Apa yang masih bisa saya nikmati? Apa yang bisa saya syukuri dari apa yang sedang saya miliki dan alami saat ini? Rasa pegalnya mungkin tetap ada. Kondisi jalan juga tidak otomatis menjadi lebih baik. Namun, perhatian kita tidak harus terus-menerus tinggal di rasa tidak nyaman tersebut.
Saat perhatian kembali pada napas, pemandangan, percakapan, dan berbagai hal kecil di sepanjang jalan, perjalanan kembali terasa menyenangkan. Karena itulah, ketika akhirnya sampai di tujuan, rasanya tidak terlalu berbeda dengan perasaan selama perjalanan. Saya sudah merasa bahagia dan bersyukur sejak masih berada di jalan. Tujuan akhirnya memang menyenangkan, tetapi perjalanan menuju ke sana juga sama berharganya.
Mungkin itu salah satu pelajaran terbesar yang saya dapatkan dari motor touring: kita tetap perlu memiliki tujuan, membuat rencana, dan mempersiapkan diri sebaik mungkin. Namun, setelah perjalanan dimulai, kita juga perlu hadir di setiap bagian prosesnya. Saat jalannya bagus, dinikmati. Saat hujan turun, dihadapi. Saat rute berubah, disesuaikan. Saat tubuh lelah, beristirahat. Saat muncul rasa tidak nyaman, kembali lagi pada napas dan apa yang masih bisa disyukuri.
Hidup tidak harus menunggu semuanya selesai atau seluruh tujuan tercapai agar kita boleh merasa bahagia. Kita bisa tetap bergerak menuju sesuatu, sambil menikmati apa yang sedang ada di hadapan kita hari ini. Namun, di balik semua tantangan fisik dan mental selama touring, buat saya masih ada satu tantangan yang paling sulit. Connect group intercom. Bisa hampir tiga puluh menit sendiri. Karena prinsipnya sederhana: kalau intercom belum connect, kita belum berangkat. Hahahaha.
Get in touch
Ruko Icon Business Park, Blok P No.5, Sampora, Kec. Cisauk, Kabupaten Tangerang, Banten 15345
Open : Tuesday - Sunday (11.00 - 20.00)
