
Olah Rasa Di Kantor
Dunia kerja bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi juga ruang untuk belajar mengenali diri, mengelola ego dan emosi, menerima perubahan, menghargai perjalanan orang lain, serta melatih mindfulness dan rasa syukur. Dengan melihat setiap dinamika kantor sebagai proses pembelajaran, kita dapat merespons situasi dengan lebih sadar, tetap jujur terhadap perasaan, dan bertindak sesuai nilai diri.
Inca Hilman
8/19/20267 min read


Bagi saya, dunia kerja adalah salah satu tempat yang paling mantap untuk berlatih olah rasa. Di sanalah kita belajar mengenali diri, mencari makna dari berbagai pengalaman, serta melihat hal-hal yang masih dapat disyukuri, termasuk ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan.
Bagaimana tidak? Sepertiga, bahkan hampir setengah dari waktu kita dalam sehari, bisa dihabiskan untuk bekerja. Kita juga bertemu dengan banyak orang yang memiliki latar belakang, tujuan, harapan, cara berpikir, dan tentu saja ego yang berbeda-beda. Kalau ingin mencari tempat untuk belajar memahami kehidupan, sebenarnya tidak perlu pergi terlalu jauh. Kantor sudah menyediakan paket pembelajarannya dengan cukup lengkap.
Saya pernah bekerja di dunia korporat selama kurang lebih 18 tahun, di empat perusahaan dengan industri yang berbeda-beda. Perjalanan tersebut berlangsung sejak saya belum mengenal kesadaran holistik, mulai mempelajarinya, hingga perlahan mencoba menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sekitar tahun 2006, saya adalah pribadi yang sangat ambisius. Saat itu, saya ingin meniti karier secepat mungkin agar dapat mencapai kebebasan finansial pada usia muda. Bagi teman-teman yang sudah membaca artikel saya, Abundance: Tentang Uang, Harapan, dan Belajar Melepas, mungkin sudah mengetahui bahwa saya pernah mengalami masa kekurangan secara finansial ketika remaja. Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan saya tumbuh menjadi pribadi yang ambisius. Apalagi, saya termasuk orang yang cukup mudah mendorong diri sendiri untuk mengejar sesuatu ketika sudah mempunyai niat.
Karier saya kemudian berkembang cukup cepat, setidaknya menurut ukuran saya saat itu. Namun, apa pun yang sudah saya capai rasanya masih kurang. Saya selalu ingin segera sampai ke level berikutnya. Belum sempat benar-benar menikmati satu pencapaian, pikiran saya sudah sibuk mencari tangga selanjutnya. Pada 2008, saya mulai merasa terpanggil untuk mempelajari kehidupan dengan kesadaran yang lebih holistik. Alasan awalnya sebenarnya sederhana: saya ingin hidup bahagia dan berkelimpahan.
Dalam masa pembelajaran tersebut, saya mendapatkan kesempatan berkarier di tempat lain dengan kompensasi yang menurut saya sangat baik. Peluang untuk menaikkan karier dengan cepat juga cukup besar. Namun, ada cara-cara yang perlu ditempuh dan terasa kurang selaras dengan hati saya. Dari situ muncul sebuah pertanyaan batin yang cukup besar: apakah saya tetap ingin mengejar kenaikan karier secepat mungkin dengan segala cara? Atau saya mulai belajar menjalani hidup dengan kesadaran yang lebih utuh, sambil mengikuti arahan dan bimbingan-Nya?
Pada akhirnya, saya merasa cukup menjalani hidup hanya berdasarkan keinginan saya sendiri. Saya memilih untuk mulai menyelaraskan perjalanan pribadi saya dengan kehidupan yang lebih besar, yang sepenuhnya merupakan milik-Nya. Saya percaya bahwa melalui arahan-Nya, saya akan ditunjukkan jalan yang lebih baik, bukan hanya menuju keberlimpahan finansial, tetapi juga keberlimpahan dalam berbagai sisi kehidupan. Tentu saja, keputusan tersebut tidak membuat kehidupan kantor mendadak bebas drama. Meeting tetap ada. Target tetap harus dicapai. Kebijakan dapat berubah. Struktur organisasi bisa berganti. Gosip kantor juga tidak tiba-tiba menghilang hanya karena saya mulai belajar refleksi diri. Perbedaannya lebih terletak pada cara saya melihat dan merespons semua itu.

Saya bersyukur mengenal kehidupan holistik pada awal perjalanan karier. Pembelajaran tersebut membantu saya agar tidak terlalu jauh terseret ke dalam overthinking atau kelelahan berkepanjangan. Bukan berarti saya selalu tenang atau tidak pernah merasa kesal. Namun, ketika menghadapi situasi yang tidak nyaman, saya belajar untuk tidak hanya berfokus pada faktor eksternal atau langsung menempatkan diri sebagai korban keadaan. Saya mencoba kembali masuk ke dalam kesadaran diri dan bertanya: Apa yang sedang terjadi di dalam diri saya? Mengapa situasi ini begitu mengganggu saya? Apa yang perlu saya pelajari? Adakah sesuatu yang perlu saya perbaiki, terima, atau lepaskan?
Dalam pekerjaan, saya pernah menghadapi berbagai situasi: meeting dengan rekan atau atasan, mengelola proyek, menyesuaikan diri dengan kebijakan baru, mengalami perubahan struktur, dipindahkan ke bidang yang belum saya kuasai, hingga harus bekerja sama dengan orang yang rasanya kurang selaras. Saya juga pernah mendengar gosip tentang orang lain—dan tentu saja, sesekali mendengar gosip tentang diri sendiri. Kalau dilihat hanya dari luarnya, semua itu memang mudah dianggap sebagai gangguan. Namun, melalui pemahaman holistik, saya perlahan melihatnya sebagai wadah pembelajaran. Bukan untuk membenarkan perilaku orang lain atau membiarkan diri diperlakukan tanpa batas, tetapi untuk memahami bagian mana yang masih berada dalam kendali saya.
Berikut beberapa cara sederhana yang dahulu saya lakukan untuk menjaga kesadaran dan rasa syukur di tengah berbagai “kelucuan” dunia kantor.
1. Meeting dengan Orang yang Kurang Selaras
Jika akan meeting dengan seseorang yang membuat saya kurang nyaman, biasanya saya meluangkan waktu sebentar untuk melakukan grounding. Dari luar, mungkin saya terlihat seperti sedang bekerja biasa, membaca sesuatu, atau berpikir serius. Padahal, di dalam hati saya sedang berdoa, mengatur napas, dan mengingat kembali hal-hal yang masih dapat saya syukuri hari itu. Saya mengingatkan diri sendiri bahwa bekerja di tempat tersebut juga merupakan pilihan saya. Orang yang akan saya temui pun memiliki perjalanan hidup dan proses pembelajarannya sendiri. Mungkin ada alasan, pengalaman, tekanan, atau luka tertentu yang membuatnya bersikap seperti itu—meskipun saya tidak selalu tahu dan tidak harus menyetujui perilakunya.
Setelah itu, saya mencoba bertanya kepada diri sendiri: apa yang bisa saya pelajari dari orang ini? Apa yang dapat saya pelajari melalui meeting ini? Pertanyaan tersebut biasanya membantu saya masuk ke dalam ruangan dengan kondisi yang lebih netral. Bukan berarti orangnya mendadak menjadi cocok dengan saya, tetapi setidaknya saya tidak membawa terlalu banyak beban sebelum percakapannya dimulai.
2. Ketika Berada di Tengah Gosip Kantor
Kalau sedang berada di lingkungan orang-orang yang bergosip, saya juga tidak selalu bisa langsung kabur begitu saja. Kadang-kadang, mau tidak mau, saya ikut mendengarnya. Namun, saya berusaha tidak langsung menelan atau menyebarkan cerita tersebut. Saya mencoba mengolahnya kembali melalui sudut pandang yang lebih sadar. Apa yang bisa saya pelajari dari kejadian ini? Apa yang mungkin melatarbelakangi seseorang melakukan hal tersebut? Apakah ia sedang mencari penerimaan, melampiaskan rasa tidak aman, atau sekadar membutuhkan tempat untuk menyalurkan emosinya?
Memahami kemungkinan latar belakang seseorang bukan berarti membenarkan tindakannya. Namun, bagi saya, cara ini membantu agar hati tidak cepat dipenuhi penghakiman. Lalu, bagaimana jika gosipnya justru tentang diri saya sendiri?
Sejak belajar mengenai kehidupan holistik, saya menjadi lebih santai terhadap perkataan orang. Mereka tidak benar-benar mengetahui keseluruhan hidup saya. Sering kali, orang hanya melihat satu potongan kecil dari luar, lalu menyusun kesimpulan sendiri. Ya, manusia memang kreatif—informasinya tiga baris, ceritanya bisa menjadi tiga episode. Bagi saya, ketika seseorang mulai bersedia melihat ke dalam dirinya dan berkomitmen memperbaiki diri, ia akan semakin menyadari betapa panjang proses pembelajarannya sendiri. Dari situ biasanya muncul pemahaman bahwa kita tidak perlu terlalu sibuk menilai perjalanan orang lain. PR sendiri saja belum selesai. Beneran masih punya waktu untuk mengerjakan PR orang lain? Hehehe… Karena itu, saya lebih memilih mendengarkan masukan dari orang-orang terdekat yang mengetahui perjalanan saya. Saya juga terbuka terhadap masukan dari orang yang belum terlalu mengenal saya, selama ia benar-benar bersedia menyediakan waktu untuk memahami situasinya sebelum memberikan penilaian.
3. Ketika Rekan Mendapatkan Promosi
Ketika seseorang naik jabatan, respons lingkungan di sekitarnya kadang cukup menarik. Di depan mengucapkan selamat, tetapi di belakang mulai muncul berbagai komentar dan analisis yang tidak diminta. Bagi saya, situasi ini justru menjadi kesempatan untuk mengembalikan pembelajaran kepada diri sendiri: bisakah saya benar-benar ikut bahagia atas pencapaian orang lain? Setiap orang mempunyai perjalanan, proses pembelajaran, dan waktunya masing-masing. Ada orang yang lebih cepat naik jabatan. Ada yang mendapatkan kesempatan berbeda. Ada pula yang jalannya justru diarahkan ke luar dari perusahaan dan menemukan sesuatu yang lebih sesuai dengan dirinya.
Ketika terlalu sibuk membandingkan perjalanan sendiri dengan keadaan eksternal, perhatian kita akhirnya habis untuk mengamati hidup orang lain. Sementara itu, pekerjaan batin sendiri malah tertunda. Karena itu, saya mencoba mengingatkan diri: Just be happy for them. Kebahagiaan dan keberhasilan orang lain tidak mengambil jatah keberlimpahan kita.
4. Ketika Struktur dan Pekerjaan Berubah
Untuk urusan perubahan struktur dan ruang lingkup pekerjaan, mental saya lumayan terlatih. Saya belajar bahwa perubahan adalah sesuatu yang konstan. Bukan hanya di lingkungan kantor, tetapi juga di dalam keluarga, hubungan, kondisi finansial, tubuh, dan hampir seluruh bagian kehidupan. Jika terjadi perubahan struktur dan saya terkena dampaknya, biasanya langkah pertama saya adalah menerima kenyataan bahwa perubahan tersebut memang sedang terjadi. Bukan berarti saya langsung menyukai atau menyetujuinya. Menerima berbeda dengan menyerah.
Acceptance, dalam pemahaman saya, adalah berhenti berdebat dengan kenyataan yang sudah terjadi. Setelah itu, barulah kita dapat melihat dengan lebih jernih: apa yang perlu dipelajari, bagaimana cara beradaptasi, pilihan apa yang tersedia, dan tindakan apa yang masih dapat dilakukan. Tarik napas, lalu hembuskan. Siap belajar sesuatu yang baru.
Ketika dipindahkan ke bidang yang belum pernah saya kerjakan, saya berusaha melihatnya sebagai kesempatan memperluas pengalaman. Siapa tahu pengetahuan tersebut suatu hari akan berguna dalam perjalanan kehidupan berikutnya. Dan ternyata, banyak hal yang dahulu terasa tidak berhubungan, pada akhirnya ikut membentuk kemampuan saya dalam menjalankan kehidupan sekarang.
5. Ketika Bonus Tidak Sesuai Harapan
Bonus tahunan juga sering menjadi topik hangat di kantor. Bahkan sebelum pengumumannya muncul, kadang beberapa bulan sebelumnya sudah ada yang rajin menghitung-hitung. Uangnya belum datang, tetapi daftar belanjanya sudah lengkap. Ketika bonus akhirnya cair, jumlahnya mungkin sebenarnya sudah cukup baik dan patut disyukuri. Namun, masih saja ada yang membandingkannya dengan “lapak sebelah” yang kabarnya memberikan bonus berlipat-lipat. Saya biasanya hanya senyum-senyum dalam hati melihat dinamika tersebut.
Pernah suatu tahun, perusahaan tidak mengeluarkan bonus karena target tidak tercapai. Namun, karyawan masih diberikan apresiasi tambahan. Tentu saja suasana kantor menjadi cukup heboh. Pada saat itu, saya memilih menanamkan rasa syukur. Bagi saya, apresiasi tersebut tetap merupakan rezeki tambahan yang dapat digunakan untuk membeli sesuatu yang memang sedang saya inginkan. Saya bahkan secara khusus mengucapkan terima kasih kepada direksi atas apresiasi yang diberikan. Saya tidak melakukan itu karena ingin terlihat baik atau menyangkal bahwa orang lain mungkin memiliki kekecewaan yang wajar. Saya hanya ingin melatih diri untuk benar-benar melihat apa yang saya terima, bukan terus-menerus berfokus pada apa yang tidak saya dapatkan. Rasa syukur bukan berarti kita tidak boleh memiliki harapan, melakukan evaluasi, atau memperjuangkan kompensasi yang layak. Namun, rasa syukur membantu agar harapan tersebut tidak berubah menjadi tuntutan yang menguasai kebahagiaan kita.
Dari pengalaman bekerja selama bertahun-tahun, saya belajar bahwa mindfulness dan gratitude tidak selalu hadir dalam bentuk meditasi panjang atau ritual khusus. Keduanya justru harus dilatih dan dipraktikkan melalui kejadian-kejadian sederhana: sebelum memasuki ruang meeting, ketika mendengar percakapan yang tidak nyaman, saat melihat orang lain memperoleh kesempatan, ketika pekerjaan berubah, atau ketika hasil yang diterima tidak sesuai ekspektasi. Kehidupan holistik bukan berarti kita harus selalu tenang, positif, dan menerima semuanya sambil tersenyum. Bagi saya, hidup secara holistik adalah bersedia melihat sebuah pengalaman secara lebih utuh—apa yang terjadi di luar, apa yang bergerak di dalam diri, bagaimana tubuh merespons, serta tindakan apa yang tetap selaras dengan nilai dan kesadaran kita.
Dunia kerja dengan segala dinamikanya telah menjadi salah satu ruang latihan terbesar dalam proses pendewasaan saya. Di sana, saya tidak hanya belajar menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga belajar mengenali ego, mengelola emosi, menerima perubahan, menghargai perjalanan orang lain, dan menemukan rasa syukur di tengah keadaan yang tidak selalu ideal. Apa pun yang kita jalani setiap hari, sesekali bawalah pengalaman tersebut ke dalam perenungan hati. Lihat kembali apa yang sedang diajarkan kehidupan melalui kejadian itu. Siram hati dengan rasa syukur, tetapi tetaplah jujur terhadap apa yang kita rasakan. Dan kalau sesekali gagal menjaga kesadaran, tidak apa-apa. Namanya juga sedang berlatih. Kadang justru melalui kegagalan itulah kita dapat melihat bagian diri yang masih perlu dikenali, dipahami, dan didewasakan.
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca. Semoga bermanfaat.
Get in touch
Ruko Icon Business Park, Blok P No.5, Sampora, Kec. Cisauk, Kabupaten Tangerang, Banten 15345
Open : Tuesday - Sunday (11.00 - 20.00)
